Pengertian Ruam Makulopapular dan Perbedaan dengan Ruam Popok pada Bayi

Definisi Ruam Makulopapular

Ruam makulopapular adalah jenis ruam yang disebabkan karena sistem kekebalan tubuh (imunitas) sedang berjuang melawan infeksi. Ruam jenis ini memicu perubahan warna pada area kulit berbentuk bintik kemerahan yang bermunculan di sekitar wajah, badan, lengan atau tungkai bawah.

Secara fisik, ruam makulopapular mirip dengan penderitan penyakit campak, demam scarlet dan herpes. Fase hiper inflamasi ruam ini dimulai 7 (tujuh) sampai dengan 10 (sepuluh) hari setelah pertama kali terserang infeksi.

Menurut penelitian di Spanyol terhadap 375 pasien COVID-19, data menunjukkan 47 persen-nya mengalami sakit ruam makulopapular. Fakta juga menyimpulkan bahwa ruam ini berkolerasi pada penderita Corona akut, dan banyak dikaitkan dengan pasien yang berusia lanjut usia. Biasanya diikuti rasa gatal yang berlangsung selama 2 (dua) sampai dengan 21 hari. Gejala ruam makulopapular umumnya diderita selama 18 hari, fase kemunculannya selama 20 sampai dengan 36 hari pasca infeksi.

Jika pasien tidak memiliki ciri-ciri seperti ruam makuopapular seperti diatas, kemungkinan karena termasuk jenis ruam yang lain, apa saja itu? Baca terus artikel dibawah ya.

Ruam Popok Sering Menjangkiti Anak Bayi

ruam makulopapular

Jika ruam terjadi pada bayi, ini pertanda baik sebenarnya. Karena tidak termasuk ruam makulopapular. Tetapi bukan berarti mesti diremehkan, tetap rawat buah hati dengan menjaga kesehatan kulit halusnya dengan cara yang tepat agar tidak menggangu kulitnya.

Kulit bayi memang sangat sensitif, lebih-lebih bayi baru lahir saat usia masih satu dua bulan, kulitnya yang halus memiliki risiko rawan terserang iritasi, sehingga ruam adalah penyakit yang sering menjangkiti sang buah hati. Pentingnya menjaga kesehatan kulit bayi menjadi sangat urgen bagi para orang tua untuk lebih ekstra lagi dalam merawat.

Penggunaan popok bada bayi menjadi salah satu pemicu kenapa si kecil bisa terserang ruam. Pada orang dewasa, ketika buang air bisa langsung dibuang di kamar mandi. Tetapi pada bayi, memakai popok ini berakibat kulitnya sering terkena kotoran buang air, sehingga otomatis mudah terkena ruam popok.

Iritasi ruam popok ditandai dengan bintik kemerahan pada daerah aera pantat, lipat paha, dan kelamin. Orang dewasa yang memakai popok, misalnya pada lansia yang memakai popok, juga rawan terjangkiti ruam popok.

Tips Mencegah dan Mengobati Ruam Popok Bayi

  1. Memilih popok dengan ukuran yang pas dengan bobot bayi, tidak kebesaran karena bisa mudah bocor kemana-mana, ataupun kekecilan yang mengakibatkan kotoran menumpuk lebih banyak serta iritasi karena kesempitan
  2. Ketika bayi buang air kecil ataupun buang air besar selesai, langsung diganti saja. Jangan sayang-sayang dengan pemakaian popok
  3. Membersihkan bagian kulit yang terkena kotoran saat mengganti popok
  4. Keringkan dengan lembut, seka dengan pelan-pelan agar tidak iritasi juga karena keseringan dilap
  5. Hindari penggunaan bedak bayi pada area kulit bayi yang tertutup popok
  6. Hindari pemakain pewangi pada area kulit bayi yang tertutup popok
  7. Penggunaan tisu bawah yang mengandung alkohol juga haraus dihindari, kulit bayi masih belum siap dengan alkohol
  8. Jangan selalu memakai popok, sesekali biarkan tanpa popok, agar kulit bayi bisa bernafas, tentu dengan perhatian yang optimal
  9. Jika sedang mengalamai ruam, pakailah popok yang lebih besar

salep untuk ruam susu pada pipi bayi

Bagaimanapun mencegah lebih baik daripada mengobati, penggunaan bepanthen efektif untuk mencegah ruam. Caranya dengan mengusap salep bepanthen baby dengan tipis dan merata pada kulit yang akan tertutup popok serta daerah lipatan seperti paha dan selangkangan, produk dari PT Bayer Indonesia ini juga bisa untuk membersihkan puting susu Ibu setelah dan sebelum menyusui. Penggunaannya bisa sebagai krim perawatan kulit(skincare) pada bayi untuk menghindari ruam popok.

Leave a Comment